Kriteria Berat-Ringan GAKY

Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), merupakan sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup lama. (DepKes RI, 2000).

Gaky saat ini merupakan salah satu masalah kurang gizi yang terjadi di Negara kita. Merupakan masalah serius, karena berkaitan langsung dengan penurunan kualitas Sumber daya manusia.  Hal ini karena (Hadju, 2003), Kekurangan yodium tidak saja menimbulkan goiter dan kretin yang kita kenal selama ini, akan tetapi memberikan akibat yang lebih luas, antara lain gangguan intelektual dan neuromotor, bayi dengan berat badan lahir rendah, abortus, kelainan kongenital dan kematian anak.

Menurut Satoto (2001), defisiensi yodium yang berat merupakan penyebab utama terjadinya masalah GAKY. Oleh karena itu, prevalensi GAKY paling tinggi terutama terjadi di wilayah¬wilayah yang kandungan yodium dalam tanah dan air nya sangat kurang atau tidak mengandung yodium sama sekali, dan pola makan penduduknya mencerminkan masukan sumber yodium yang rendah.

suber:wikipedia
suber:wikipedia

Yodium merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini, ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006).

Yodium diserap dalam bentuk yodida (Kartasapoetra (2005), yang di dalam kelenjar tiroid dioksidasi dengan cepat menjadi yodium, terikat pada molekul tirosin dan tiroglobulin. Selanjutnya tiroglobulin dihidrolisis menghasilkan tiroksin dan asam amino beryodium, tiroksin terikat oleh protein. Asam amino beryodium selanjutnya segera dipecah dan menghasilkan asam amino dalam proses deaminasi, dekarboksilasi dan oksidasi.

Menurut Merryana (2002), berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk  menanggulangi dampak akibat GAKY, antara lain  melalui suplementasi yodium baik secara langsung dengan pemberian kapsul yodium, maupun secara tidak langsung melalui fortifikasi yodium pada garam. Berbagai upaya ini antara lain bertujuan untuk menjamin nutrisi yodium bagi penduduk, terutama bagi kelompok risiko tinggi dan mencegah gangguan retardasi mental dan fisik dan gangguan perkembangan lain yang ada hubungannya dengan GAKY

Kriteria GAKY

GAKY merupakan rangkaian efek kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia. Semakin parah tingkat kekurangan yodium yang dialami semakin banyak komplikasi yang ditimbulkannya. Karena sangat sulit dilakukan pemeriksaan harian jumlah yodium yang dikonsumsi seseorang maka digunakan pemeriksaan Ekskresi Yodium dalam Urin Sehari (EYU). EYU dianggap memberi gambaran masukan yodium seseorang. Menurut Djokomoeljanto (1989), berdasarkan segi kriteria berat-ringan GAKY, komplikasi terbesar penyakit ini adalah kretin endemik

Berdasarkan EYU, GAKY dibagi dalam tiga tingkatan :

  1. GAKY Ringan: Prevalensi gondok sekitar 2-20% (anak sekolah), dengan median nilai yodium urin lebih dari 50ug/g kreatinin. GAKY tingkat ini dapat dikendalikan dengan pemberian tambahan garam yodium berkadar 10 -25mg/kg, dan sering membaik secara spontan dengan perbaikan dan perkembangan ekonomi penduduk setempat.
  2. GAKY Sedang : Prevalensi 30%, kadang disertai hipotiroidi; median yodium urin 25ug/g kreatinin. GAKY tingkatan ini dapat dikendalikan dengan pemberian garam yodium berkadar 25-40mg/kg, apabila tidak diberi suntikan yodium dalam minyak.
  3. GAKY Berat : Prevalensi di atas 30%; ada kretin endemik; median yodium urin di bawah 25ug/g kreatinin. GAKY tingkatan ini memerlukan larutan yodium dalam minyak yang diberikan per oral atau melalui suntikan untuk menjamin tercegahnya defek susunan syaraf pusat bayi yang akan dilahirkan.

Gondok Endemik

Salah satu manifestasi gambaran penyakit kekurangan zat gizi yodium yang menonjol ialah pembesaran kelenjar gondok yang awam menyebutnya sebagai penyakit gondok. Karena endemik pada beberapa wilayah tertentu yang kekurangan yodium, disebut juga endemik goiter (Soegeng dkk, 1999). Menurut Muhtadi (1993), gondok dikatakan endemik, jika lebih dari 10% penduduknya atau anak-anak yang berusia 6-12 tahun pada masyarakat tersebut menderita gondok. Hingga saat ini angka gondok nasional masih mencapai 9,8%, jauh di atas standar WHO yang mensyaratkan angka gondok di bawah 5%.

Gondok Endemik biasanya terjadi di daerah endemik atau daerah yang kondisi tanah dan airnya kekurangan yodium seperti di daerah pegunungan dan dataran tinggi. Penyakit gondok endemik disebabkan oleh kurangnya asupan jumlah yodium dalam tubuh. Kekurangan yodium dalam tubuh akan mengakibatkan produksi dan sekresi hormon oleh kelenjar tiroid menjadi berkurang. Beberapa tanda dan gejala penyakit gondok endemik antara lain Terjadi pembengkakan pada kelenjar ludah; Mulut terasa tegang dan nyeri, terutama saat mengunyah dan menelan makanan; Selera makan berkurang; mual bahkan sampai terjadi muntah yang berulang kali; suhu badan menjadi tinggi; Seringkali merasakan dengungan ditelinga.

Menurut Djokomoeljanto (2002), pada awalnya gondok endemik disamaartikan dengan GAKY, namun ini merupakan pendapat yang salah, sebab gondok hanya merupakan sebagian kecil saja dari spektrum GAKY. Penyebab utama gondok adalah defisiensi yodium, tetapi ada sebab yang lain, yaitu : goitrogen, kelebihan (excess) yodium, mineral mikro yang lain dan status gizi pada umumnya. Dengan memberikan yodium yang cukup, prevalensi gondok berku rang, namun tidak terlihatnya gondok bukan berarti GAKY telah tiada

Menurut Syahbudin (2001), terjadinya gondok endemik merupakan mekanisme adaptasi fungsi kelenjar tiroid terhadap defisiensi yodium akibat pasokan yodium yang kurang melalui makanan. Akibat pasokan yodium yang kurang, terjadi modifikasi kelenjar tiroid sehubungan dengan meningkatnya TSH (Thyroid Stimulating Hormone) akibat penurunan produksi hormon tiroid. TSH akan meningkatkan transport aktif yodium dan berusaha mengadakan kompensasi den gan menambah jaringan kelenjar, sehingga terjadi hipertrophi kelenjar gondok (pembesaran kelenjar gondok). Kadar TSH yang tinggi berkaitan dengan defisiensi yodium. Kadar TSH dapat bervariasi dan tidak berhubungan dengan adanya gondok, akan tetapi terjadinya gondok lebih berhubungan dengan lamanya peninggian TSH, respon sel tiroid terhadap peninggian TSH dan faktor lain seperti growth hormon, growth factors, insulin, kartisol dan c GMP

Refferensi, antara lain:

  • Syahbudin, S. 2001. GAKY dan Usia. Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional GAKY. FK Undip
  • 2002. Selenium dan Kurang Iodium. Kumpulan naskah pertemuan Ilmiah Nasional GAKY. FK Undip
  • Hajdu, V. 2003. Pengaruh Pemberian Obat Cacing Terhadap Penyerapan Yodium Pada Anak Sekolah yang Menerima Kapsul Yodium di Kabupaten Enrekan Sulawesi Selatan. Jurnal GAKY Indonesia, Pusat GAKY IDD Center, FK Undip Semarang.
  • Merryana, A., Bambang, W., Gunanti, I.R. 2002. Identifikasi Gondok di Derah Pantai : Suatu Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Jurnal GAKI Indonesia. Pusat GAKI-IDD Centre. FK Undip.
  • Muhtadi, D. 1993. Metabolisme Zat Gizi II. Pustaka Sinar Harapan
  • 2002. Spektrum Klinik Gangguan Akibat Kekurangan Yodium dari Gondok Hingga Kretin Endemik. Jurnal GAKI Indonesia. Pusat GAKI¬IDD Center. FK Undip
  • Merryana, A., Bambang, W., Gunanti, I.R. 2002. Identifikasi Gondok di Derah Pantai : Suatu Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Jurnal GAKI Indonesia. Pusat GAKI-IDD Centre. FK Undip.
  • Depkes, RI. 2000. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat Masyarakat. Depkes RI.
  • Sediaoetama, Ahmad Djaelani. 2006. Ilmu Gizi II. Dian Rakyat.