MANFAAT DAN PENGHAMBAT INISIASI MENYUSU DINI

MANFAAT DAN PENGHAMBAT INISIASI MENYUSU DINI

Pengertian Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu) (Depkes RI, 2008). Pada keadaan ini IMD merupakan proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu (Depkes RI, 2008). Dengan melakukan IMD, bayi belajar beradaptasi dengan kelahirannya di dunia. Selain itu, kedekatan antara ibu dengan bayinya akan terbentuk dalam proses IMD tersebut. Sebab, dengan memisahkan si ibu dengan si bayi ternyata daya tahan tubuh bayi akan drop (turun) hingga mencapai 25% (Wardani, 2008).

Roesli (2008) menyebutkan bahwa bayi manusia sama seperti halnya bayi mamalia lain, bayi manusia juga mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu ini dapat membantu proses perlekatan yang baik dan menjadi kunci keberhasilan dalam menyusui. Pada hari-hari pertama setelah kelahiran, ibu memang tidak memproduksi banyak susu, tetapi yakinlah bahwa jumlah itu sudah cukup untuk si jabang bayi. Terkadang, meskipun ASI dipompa keluar dan tidak ada yang tampak mengalir, itu sama sekali bukan bukti bahwa ASI tidak ada atau tidak cukup. Karenanya, posisi perlekatan yang benar akan sangat membantu bayi memperoleh ASI yang dibutuhkannya, dan itu memang tidak sebanyak yang dibayangkan orang dewasa (Newman, 2005).

Tata laksana Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi menyusu dini dapat dilaksanakan dalam persalinan normal maupun dengan operasi caesar. Namun secara garis besar tata laksana IMD dilaksanakan dalam tahapan sebagai berikut (Depkes RI, 2008):

  1. Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi atau tidak menggunakan obat kimiawi. Jika ibu menggunakan obat kimiawi terlalu banyak, dikhawatirkan akan terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan menyusu dalam proses inisiasi menyusu dini.
  2. Para petugas kesehatan yang membantu ibu menjalani proses melahirkan, akan melakukan kegiatan penanganan kelahiran seperti biasanya. Begitu pula jika ibu harus menjalani operasi caesar.
  3. Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan kulit bayi.
  4. Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
  5. Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
  6. Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
  7. Bayi tetap dibiarkan dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.
  8. Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K dan tetes mata.
  9. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat – gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusui tidak boleh dijadwal. Rawat – gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.

Ibu yang melahirkan dengan tindakan seperti operasi caesar perlu diberikan kesempatan kontak kulit bayi ke kulit ibu. Jika ibu belum pulih karena pembiusan, ayah dapat melakukan kontak kulit bayi ke kulit ayah, menunggu sampai ibu pulih (Depkes RI, 2008). Namun, jika diberikan anestesi spinal atau epidural, ibu dalam keadaan sadar sehingga dapat segera memberi respon pada bayi. Bayi dapat segera diposisikan sehingga kotak kulit ibu dan bayi dapat terjadi. Usahakan menyusu pertama dilakukan di kamar operasi. Jika keadaan ibu atau bayi belum memungkinkan, bayi diberikan pada ibu pada kesempatan yang tercepat (Roesli, 2008).

Untuk mendukung terjadinya IMD pada persalinan caesar, berikut ini tatalaksananya (Roesli, 2008):

  1. Tenaga dan pelayanan kesehatan yang suportif.
  2. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 200 – 500 C. Disediakan selimut untuk menutupi punggung bayi dan badan ibu. Disiapkan juga topi bayi untuk mengurangi hilangnya panas dari kepala bayi.
  3. Tata laksana selanjutnya sama dengan tata laksana di atas.
  4. Jika IMD belum terjadi di kamar bersalin, kamar operasi, atau bayi harus dipindah sebelum satu jam maka bayi tetap diletakkan di dada ibu ketika dipindahkan ke kamar perawatan atau pemulihan. Menyusu dini dilanjutkan di kamar perawatan ibu atau kamar pulih.

Namun demikian saat ini masih ditemukan praktik IMD yang salah seperti berikut (Roesli, 2008):

  1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
  2. Bayi segera dikeringkan dengan kain kering. Tali pusat dipotong, lalu diikat.
  3. Karena takut kedinginan, bayi dibungkus (dibedong) dengan selimut bayi.
  4. Dalam keadaan dibedong, bayi diletakkan di dada ibu (tidak terjadi kontak dengan kulit ibu). Bayi dibiarkan di dada ibu untuk beberapa lama (10-15 menit) atau sampai tenaga kesehatan selesai menjahit perinium.
  5. Selanjutnya diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukkan puting susu ibu ke mulut bayi.
  6. Setelah itu, bayi dibawa ke kamar transisi atau kamar pemulihan (recovery room) untuk ditimbang, diukur, dicap, diazankan oleh ayah, diberi suntikan vitamin K, dan kadang diberi tetes mata.

Tahap perilaku bayi

Jika bayi baru lahir segera dikeringkan dan diletakkan di perut ibu dengan kontak kulit ke kulit dan tidak dipisahkan dari ibunya setidaknya satu jam, semua bayi akan melalui lima tahapan perilaku (pre-feeding behavior) sebelum ia berhasil menyusu (Roesli, 2008). Berikut ini lima tahap perilaku tersebut (Depkes RI, 2008):

  1. Dalam 30 menit pertama: bayi beristirahat keadaan siaga, sekali-kali melihat ibunya, menyesuaikan di lingkungan. Roesli (2008) menambahkan pada keadaan ini ini terjadi proses yang disebut dengan bonding (hubungan kasih sayang) yang merupakan dasar pertumbuhan bayi dalam suasana aman. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri ibu terhadap kemampuan menyusui dan mendidiknya. Kepercayaan Ayah pun menjadi bagian keberhasilan menyusui dan mendidik anak bersama-sama ibu. Langkah awal keluarga sakinah.
  2. Antara 30-40 menit: bayi mengeluarkan suara, memasukkan tangan ke mulut, gerakan menghisap. Bayi mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada di tangannya. Bau ini sama dengan bau cairan yang dikeluarkan payudara ibu. Bau dan rasa ini akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan puting susu ibu (Roesli, 2008).
  3. Mengeluarkan air liur. Hal ini terjadi jika bayi mulai menyadari bahwa ada makanan disekitarnya, bayi mulai mengeluarkan air liurnya.
  4. Bergerak ke arah payudara (areola sebagai sasaran) dengan kaki menekan perut ibu. Menjilat-jilat kulit ibu. Sampai di ujung tulang dada, bayi menghentak-hentakkan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan-kiri, menyentuh puting susu dengan tangannya.
  5. Menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut lebar dan melekat dengan baik.

 

Kontak kulit dan menyusu sendiri

Kelahiran merupakan kejadian traumatis bagi bayi. Sebab bayi keluar dari tempat yang nyaman yakni rahim, ke dunia. Dengan meletakkan bayi ke dada ibu, maka trauma itu bisa teratasi. Tangisan bayi di awal masa kelahirannya adalah bentuk dari trauma tersebut (Wijoseno, 2008). Disinilah salah satu letak pentingnya kotak antara kulit ibu dengan kulit bayi yang juga menjadi kunci keberhasilan menyusui. Secara lebih jelas dalam Paket Modul Kegiatan-Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI Eksklusif 6 Bulan (Depkes RI, 2008) dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat. Kulit ibu akan menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan risiko kematian karena hypothermia (kedinginan). Menurut penelitian Dr. Neils Bergman (dalam Roesli, 2008) dari Afrika Selatan, kulit dada ibu yang melahirkan satu derajat lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan. Jika bayinya kedinginan, suhu kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi. Jika bayi kepanasan, suhu kulit ibu otomatis turun satu derajat untuk mendinginkan bayinya. Kulit ibu bersifat termogulator atau thermal sinchrony bagi suhu bayi.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
  3. Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di ASI. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
  4. Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting untuk pertumbuhan usus. Usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda, tidak siap untuk mengolah asupan makanan. Antibodi dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga menjamin kelangsungan hidup sang bayi.
  5. Bayi memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan protein manusia (misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus bayi.
  6. Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan.
  7. Sentuhan, kuluman atau emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting karena:

1)      Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan ibu.

2)      Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit atau nyeri (karena hormon meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita atau bahagia.


 

Penghambat Inisiasi Menyusu Dini

Insiasi menyusu dini yang dilakukan pada 1 jam pertama kehidupan bayi memiliki manfaat yang sangat besar. Karen Edmond, dkk. (dalam Nugraha, 2007) melakukan penelitian terhadap 10.947 bayi pedesaan Ghana (Afrika). Hasil penelitian itu menunjukkan, permulaan (inisiasi) menyusui dalam jam pertama setelah lahir menurunkan 22% risiko kematian bayi-bayi usia 0-28 hari. Sebaliknya, penundaan inisiasi menyusui meningkatkan risiko kematian. Namun demikian, terdapat beberapa intervensi yang dapat mengganggu kemampuan alami bayi untuk mencari dan menemukan sendiri payudara ibunya. Diantaranya, obat kimiawi yang diberikan saat ibu melahirkan bisa sampai ke janin melalui ari-ari dan mungkin menyebabkan bayi sulit menyusu pada payudara ibu (Roesli, 2008).

Terhambatnya praktik IMD tidak hanya disebabkan oleh pemakaian obat kimiawi menjelang persalinan, tetapi juga beberapa pendapat atau mitos seputar IMD. Depkes RI (2008) memberikan batasan terhadap pengertian mitos dan fakta seputar IMD. Mitos adalah sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat, tetapi belum tentu mengandung nilai kebenaran. Mitos biasanya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Sedangkan fakta adalah sesuatu yang benar-benar ada atau benar-benar terjadi, dan dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Berikut ini adalah berbagai mitos seputar menyusui, yang menghambat terjadinya kontak dini kulit ibu dengan kulit bayinya serta membuat masyarakat enggan menyusui bayinya yang baru lahir sesegera mungkin (Depkes RI, 2008):

  1. Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk dapat meneteki-tidak benar.

Kecuali dalam situasi darurat, ibu yang baru melahirkan mampu meneteki bayinya segera. Memeluk dan meneteki bayi dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah ibu setelah melahirkan. Karena keluarnya oksitosin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi menyusu dini membantu menenangkan ibu.

  1. Bayi baru lahir tidak dapat menyusu sendiri-tidak benar.

Ketika belum menyaksikan sendiri, banyak yang tidak percaya bahwa bayi mampu melakukan hal tersebut. Bayi memiliki naluri kuat mencari puting ibunya selama satu jam setelah lahir. Jika tidak segera menyusu, naluri ini akan terganggu sehingga akan muncul masalah dalam menyusu. Naluri bayi ini baru akan muncul kembali kurang lebih setelah 40 jam kemudian.

  1. ASI belum keluar pada hari-hari pertama setelah melahirkan-tidak benar.

ASI pertama atau kolostrum akan keluar langsung setelah kelahiran. Jumlahnya sedikit, tapi cukup untuk kebutuhan bayi. Jumlahnya sedikit, tapi cukup untuk kebutuhan bayi. Pada saat belum banyak ASI yang tersedia, posisi perlekatan bayi harus sempurna sehingga bayi dapat mengeluarkan dan minum ASI dari payudara ibunya. Ketika perlekatan belum sempurna, bayi tidak dapat minum ASI pertama yang dihasilkan oleh ibunya.

  1. ASI pertama (kolostrum) sangat sedikit, sehingga bayi lapar dan menangis-tidak benar.

ASI pertama memang sedikit, tapi cukup untuk memenuhi perut bayi yang hanya dapat diisi sebanyak 4 sendok teh. Bayi yang menangis belum tentu berarti lapar, karena masih banyak penyebab lain yang menyebabkan bayi menangis. Seperti merasa tidak nyaman, merasa tidak aman, merasa sakit dan sebagainya. Pemberian makanan dan minuman selain ASI hanya akan membahayakan kesehatan pencernaan bayi, karena perut bayi belum siap untuk menerima dan mengolahnya.

  1. Kolostrum atau ASI pertama adalah susu basi atau kotor-tidak benar.

Warna kuning kolostrum adalah tanda-tanda kandungan protein dalam ASI, bukan berarti kotor atau basi. Selain protein, kolostrum atau ASI pertama juga kaya dengan zat kekebalan tubuh dan zat penting lain yang harus dimiliki bayi baru lahir termasuk mematangkan dinding usus bayi yang masih muda.

  1. Bayi kedinginan-tidak benar.

Bayi baru lahir memang mudah kedinginan, sehingga perlu dipeluk kontak kulit ke kulit, diberi topi, lalu ibu bersama bayi diselimuti. Menurut penelitian Dr. Neils Bergman (dalam Roesli, 2008) dari Afrika Selatan, kulit dada ibu yang melahirkan satu derajat lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan. Jika bayinya kedinginan, suhu kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi.

  1. Kurang tersedia tenaga kesehatan sehingga bayi tidak dapat dibiarkan menyusu sendiri-tidak benar.

Saat bayi di dada ibu, penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya. Bayi dapat menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga terdekat untuk menjaga bayi sambil member dukungan pada ibu (Roesli, 2008).

  1. Kamar bersalin maupun kamar operasi sibuk, sehingga bayi perlu segera dipisahkan dari ibunya-tidak benar.

Dengan bayi di dada ibu, ibu dapat dipindahkan ke ruang pulih atau kamar perawatan. Beri kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya mencapai payudara dan menyusu dini (Roesli, 2008). Lagipula, proses IMD dapat dibantu suami atau anggota keluarga ibu.

  1. Ibu harus segera dijahit sehingga bayi perlu segera dipisah dari ibunya-tidak masalah.

Bagi ibu yang melahirkan dengan cara operasi caesar, meskipun sementara dijahit, ibu tetap dapat melaksanakan IMD. Karena kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara, yang dijahit adalah bagian bawah tubuh ibu.

  1. Bayi perlu diberi suntikan vitamin K dan tetes mata harus segera setelah lahir-tidak benar.

Hal ini memang dapat dibenarkan, namun dapat ditunda selama 1 jam hingga bayi menyusu awal. Menurut American College of Obtetrics and Gynecology dan Academy Breastfeeding Medicine (2007) (dalam Roesli, 2008), tindakan pencegahan ini dapat ditunda setidaknya selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan bayi.

  1. Bayi harus segera dibersihkan, dimandikan, diukur dan ditimbang setelah lahir-tidak benar.

Bidan akan membersihkan seperlunya. Vernix (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman bayi (Roesli, 2008). Memandikan bayi sebaiknya ditunda hingga 6 jam agar tidak membuat bayi kedinginan dan menghindarkan hilangnya panas badan bayi. Selain itu, kesempatan vernix meresap, melunak, dan melindungi kulit bayi lebih besar (Roesli, 2008). Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai menyusu awal selesai.

Penting untuk menyampaikan informasi tentang IMD pada tenaga kesehatan yang belum menerima informasi ini. Dianjurkan juga kepada tenaga kesehatan untuk menyampaikan informasi IMD pada orang tua dan keluarga sebelum melakukan IMD. Karena orang tua wajib untuk membela hak sang bayi serta berunding dengan tenaga kesehatan agar bayi dibiarkan untuk IMD.

 

Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Inisasi Menyusui Dini besar manfaatnya terhadap keberhasilan menyusui. Dalam Wardani (2008) dr. Radix Hadriyanto SpA dari RS Adi Husada menyatakan, sebanyak 50% bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya saat dilahirkan tidak dapat menyusu, sedangkan bayi yang lahir dengan bantuan tindakan atau obat-obatan dan dipisahkan dari ibunya nyaris semua tidak dapat menyusu. Bahkan inisiasi dini ini juga memiliki nilai manfaat untu ibu, manfaat IMD terhadap ibu antara lain:

 

 

 

  1. Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi (JNPK-KR, 2007).
  2. Merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan sesudah melahirkan. Pengisapan bayi pada payudara merangsang pelepasan hormon oksitosin sehingga membantu involusi uterus dan membantu mengendalikan perdarahan( Wardani, 2008).
  3. Memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi (6 bulan-2 tahun). Sebuah penelitian pada beberapa bayi di Norwegia (dalam Gupta, 2007) menyebutkan, 69% bayi yang menyusu sejak kelahirannya tetap menyusu pada ibunya 3 bulan bulan lebih lama dibandingkan dengan 47% bayi lainnya yang mulai menyusu sesudah 6 jam kelahirannya.

Adapun manfaat IMD untuk bayi antara lain:

  1. Mempertahankan suhu bayi tetap hangat. Pengendalian terhadap suhu bayi merupakan komponen penting dalam mencegah kematian pada bayi, terlebih lagi pada kasus bayi BBLR. Kontak antara kulit ibu dengan kulit bayi menjadi sebuah metode yang tidak mahal, aman, dan efektif untuk mempertahankan suhu bayi yang baru lahir. Adanya kontak ini seolah menjadi ruang perawatan incubator yang mampu menghangatkan kembali bayi yang mengalami hypothermic (Pan American Health Organization, 2007).
  2. Menenangkan ibu dan bayi serta meregulasi pernapasan dan detak jantung menjadi lebih stabil (Pan American Health Organization, 2007).
  3. Kolonisasi bakterial di kulit dan usus bayi dengan bakteri badan ibu yang normal.
  4. Mempercepat keluarnya meconium (kotoran bayi berwarna hijau agak kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena meminum air ketuban. Karena Kolostrum merupakan pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mikonium sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI (Irawati, 2007). Inilah yang menyebabkan bayi sering defekasi dan feces berwarna hitam.
  5. Mengurangi bayi menangis sehingga mengurangi stres dan tenaga yang dipakai bayi. Christensson (1992) (dalam UNICEF Maharashtra, 2008) membandingkan 200 bayi yang menangis ke dalam 2 kelompok, kelompok bayi pertama didekap dan berada pada posisi inisiasi menyusu dini (terdapat kontak antara kulit ibu dengan kulit bayi). Sedangkan kelompok bayi lainnya diselimuti dekat dengan ibunya selama 90 menit sesudah lahir. Dan selama waktu pengamatan didapatkan hasil bahwa bayi yang diselimuti menangis lebih lama dibandingkan dengan bayi yang berada pada posisi inisiasi dini .
  6. Mengatur tingkat kadar gula dalam darah, dan biokimia lain dalam tubuh bayi. Christensson (1992) (dalam UNICEF Maharashtra, 2008) menyebutkan bahwa bayi-bayi yang berada pada posisi IMD memiliki tingkat kadar gula dalam darah 90 menit lebih tinggi dan lebih cepat pulih dari asidosis sementara saat lahir, dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipisahkan dengan ibunya dan diselimuti dekat dengan Sang Ibu.
  7. Membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan nafas. Sehingga saraf motoriknya terlatih (JNPK-KR, 2007).
  8. Memperoleh kolostrum yang sangat bermanfaat bagi sistem kekebalan bayi. Sebab ASI khusus berwarna kekuningan ini kaya akan antibodi yang melindungi terhadap infeksi dan alergi, serta mengandung banyak sel darah putih yang berfungsi melindungi terhadap infeksi (Depkes RI, 2007b).
  9. Mencegah terlewatnya puncak refleks mengisap pada bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak disusui, refleks akan berkurang cepat, dan hanya akan muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian (Nugraha, 2007).

(LITA DWI LISTYOWATI)

The following two tabs change content below.
Avatar

Dinkes Lumajang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Website Resmi Dinkes Lumajang