Sosialisasi Penanganan Hipertensi di FKTP

Mencegah dan Mengendalikan Penyakit Tidak Menular melalui Penanganan Hipertensi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

Hipertensi merupakan faktor risiko kerusakan organ: otak, jantung, ginjal, retina mata, pembuluh darah besar (aorta), dan pembuluh darah perifer. Menurut hasil survey Riset Kesehatan Tahun 2018, bahwa prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia cenderung naik. Pada tahun 2013 sebesar 27,8% naik 6,3 atau sebesar 34,1% dari total jumlah penduduk pada tahun 2018. Di lumajang sendiri, proporsi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 33,8% (Riskesdas, 2018). Disisi lain, peran dan fungsi FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) sebagai unit layanan kesehatan terdepan di wilayah mengharuskan semua klinik di wilayah untuk bekerjasama dengan puskesmas dalam memberikan pelayanan skrining maupun hipertensi sesuai kewenangan secara optimal. Untuk itu, diperlukan upaya peningkatan kapasitas bagi petugas kesehatan  terutama dokter dalam memperluas wawasan dan pemahamannya tentang upaya pengendalian Hipertensi di FKTP.

Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang bekerjasama dengan IDI Lumajang mengadakan pertemuan sosialisasi penanganan hipertensi di FKTP pada Hari Rabu, 10 April 2019 di Aula Hotel Prima Lumajang. Tujuan pertemuan tersebut disamping sebagai upaya peningkatan kapasitas juga sebagai upaya untuk meningkatkan kerjasama dalam jejaring pengendalian PTM melalui lintas sektor dan lintas program di Kabupaten Lumajang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh tenaga kesehatan dokter dari puskesmas, rumah sakit dan klinik di Kabupaten Lumajang. Sebagai narasumber adalah dr. Beni Ghufron, Sp.Pd dan dr. Asih Retno Wulandari, Sp.A dari Rumah Sakit dr. Haryoto Lumajang. Dalam materinya, dr. Beni menyampaikan bahwa permasalahan penyakit hipertensi  melatarbelakangi Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI)  mengadakan gerakan peduli hipertensi dengan mengkolaborasikan kegiatannya melalui GERMAS (Gerakan masyarakat Sehat). Pada tahun 2019 melalui Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia dibuatlah Konsensus Nasional tentang pelaksanaan hipertensi di Indonesia. Pembuatan konsensus bertujuan untuk membantu secara klinis kepada dokter dalam rangka peningkatan upaya pencegahan, pengobatan dan kepatuhan pasien hipertensi. Salah satu poin dalam consensus tersebut adalah tetap dipakainya standar penetapan definisi hipertensi yaitu tekanan darah sistolik (TDS) >140mmHgdan/atau tekanan darah diastolic (TDD) >90 mmHg.

Dalam materi dr. Beni juga disampaikan tentang penatalaksanaan hipertensi, salah satunya melalui intervensi pola hidup atau perilaku. Yaitu: pembatasan konsumsi garam dan alkohol, peningkatan konsumsi sayuran dan buah, penurunan berat badan, menjaga berat badan ideal, aktifitas fisik teratur, dan tidak merokok. Upaya pemerintah dalam hal ini dimotori Kementerian Kesehatan yaitu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS. Germas adalah upaya pemberdayaan masyarakat yang melibatkan peran lintas sektor dari berbagai lembaga atau organisasi yang terkait untuk mempraktikkan perilaku sehat.  Dalam GERMAS, sebagai upaya  dalam rangka mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular yaitu dengan melakukan perilaku CERDIK dan PATUH. Yang dimaksud perilaku CERDIK adalah cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin berolahraga, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stress. Sedangkan perilaku PATUH yaitu; periksa keseharan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, tetap diet dengan gizi seimbang, upayakan aktifitas fisik dengan aman, hindari asap rokok, alkohol dan zat karsinogenik (penyebab kanker) lainnya. Perilaku PATUH dikhususkan bagi mereka yang sudah menyandang penyakit tidak menular. (LUA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.