Stunting Masalah Multi Sektoral

Berdiskusi Soal Gizi Buruk dan Stuntin

Dalam rangka penanggulangi stunting Dinas kesehatan khususnya seksi Kesga dan Gizi bidang Kesehatan masyarakat mengadakan Focus Grup Discussion (diskusi keloampok terpadu) masalah stunting. Acara dibuka oleh dr Rosyidah kepala Bidang kesehatan masyarakat dalam paparannya menyebutkan bahwa angka stunting kabupaten Lumajang dari hasil risikesdas tahun 2018 adalah 34,1 persen angka ini menurun bila dibandingkan riskesdas tahun 2013, meski demikian sebaran di tingkat kecamatan  masih ada yang tinggi, upaya yang dilakukan adalah melalui program spesifik  yang menjadi wewenang dinas kesehatan yang hanya menyumbangkan 30% dalam upaya penanggulangan stunting, sedangkan 70 persennya adalah program sensitive yang merupakan peran dari berbagai OPD sektor terkait, maka pada saat ini dilakukan diskusi terarah dengan lintas sektor terkait.

“Stunting bukan hanya sekedar pendek, Beban di masa mendatang akibat pendek/stunting saat ini” , demikian disampaikan Farianingsih, kepala seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi dalam paparannya.  Lebih lanjut dijelaskan penyebab anak stunting adalah dari faktor gizi yang dialami ibu saat hamil, Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi,terbatasnya layanan kesehatan, masih kurangnya akses  kepada makanan bergizi dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Bagaimana mengejar kondisi stunting agar bisa seperti  halnya anak-anak pada seumurannya? Yaitu dengan Aktifitas fisik, pola tidur dan pola makan. Aktifitas fisik yang mendukung misalnya olah raga penumbuh tulang (lompat tali, lari, basket, dan lainnya). Sedangkan pola tidur sangat penting dengan cukup tidur bagi pertumbuhan. Pola makan juga harus diperhatikan, diantaranya pentingnya sarapan pagi, makan dengan gizi seimbang dan tetapkan 3J tepat jumlah kalori, jadwal makan dan tepat jenis makan.

Kabupaten Lumajang tahun 2019 ini tidak menjadi lokus penanganan stunting di tingkat propinsi maupun pusat, akan tetapi berdasarkan bulan timbang tahun 2018 melakukan 10 lokus kecamatan sebagai pusat intevensi penanganan stunting yaitu Gucialit, Tempursari, Tunjung, Padang, Pasrujambe, Yosowilangun, Rogotrunan, Bades, Kunir dan Tekung yang memiliki 10 besar angka stunting tertinggi

Guna menanggulangi kasus stunting di kabupaten Lumajang tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja tapi juga oleh sektor lain sehingga bisa secara paripurna menanganai stunting. Agar lebih mempermudah melakukan koordinasi siapa berbuat apa, maka perlu dibentuk tim Penanggulangan Stunting kabupaten Lumajang yang dalam pertemuan ini sudah disusun draft Tim nya. Untuk tupoksinya akan dilakukan oleh tim kecil dengan berkoordinasi dengan BAPEDA biar bisa sinkron dengan Rencana Aksi Pangan Daerah Kabupaten Lumajang.

Pada pertemuan ini juga dibahas peran dan kegiatan masing-masing OPD yang bisa disinkronkan dengan kegiatan penanggulangan stunting salah satu diantaranya PKK yang didalam program kerja pokja 4 merumuskan kegiatan penanggulangan stunting pada 2 kecamatan gucialit dan Tekung yang dijadwalkan pada bulan juni 2019, kegiatan Pencegahan pernikahan dini di kecamatan Ranuyoso dan Klakah pada bulan Juli 2019. Seluruh kegiatan sinkronisasi dari masing-masing OPD akan dirangkum menjadi rencana aksi tim penanggulangan stunting tahun 2019

Acara ditutup oleh ibu kepala seksi gizi dinas kesehatan kabupaten Lumajang dengan harapan semua OPD terlibat dalam penanganan stunting di kabupaten Lumajang sesuai peran dan tupoksi masing-masing. (LDL)

The following two tabs change content below.
Lita Dwi Listyowati, SKM

Lita Dwi Listyowati, SKM

Penulis adalah proktisi dan pengelola program gizi di Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang
Lita Dwi Listyowati, SKM

Latest posts by Lita Dwi Listyowati, SKM (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Website Resmi Dinkes Lumajang