Workshop Imunisasi Bagi Mitra dan Kader


Upaya Memastikan Seluruh Anak di Lumajang Sudah mendapatkan Hak Imunisasi mereka

Sebagai upaya sungguh-sungguh pemerintah Kabupaten Lumajang, untuk memastikan seluruh anak telah mendapatkan imunisasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang mengadakan workshop imunisasi. Berturut-turut, workshop diadakan di Hotel Lumajang pada tanggal 29 April 2019 untuk Kader Kesehatan, dan tanggal 30 April 2019 di Hotel Gadjah Mada, untuk mitra imunisasi (TP-PKK Kabupaten dan Kecamatan, Muslimat NU, Aisyiah, dan Pondok Pesantren) se Kabupaten Lumajang.

Kepala Bidang P2P, Agus Hari Widodo, SKM, M. Kes, dalam sambutannya menekankan pentingnya cakupan tinggi imunisasi untuk mencegah penularan penyakit PD3I atau Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi. Cakupan imunisasi rutin yang rendah, menjadi pemicu utama merebaknya penyakit menular di masyarakat, sebagaimana terjadi tahun 2018 kemarin, dengan adanya KLB Difteri di Jawa Timur, sebagaimana juga di Lumajang

Melengkapi penekanan diatas, Munif Arifin, SKM, MPH, Kasie Surveilans dan Imunisasi, memaparkan beberapa data terkait imunisasi dan KLB Difteri tahun 2018. Bahwa berdasarkan status imunisasi, hanya tedapat 6.7% suspek difteri  mempunyai status imunisasi lengkap dengan bukti adanya KMS (Kartu Menuju Sehat) atau buku KIA. Sebagian besar lainnya (46.7%),  mempunyai status imunisasi lengkap sebatas ingatan orang tua. Hal ini sangat berpotensi kurang akurat, mengingat jumlah, jenis, dan interval imunisasi yang beragam akan sulit diingat orang tua.

Aspek reporting dan recording pada program imunisasi sama pentingnya dengan pelaksanaan imunisasi itu sendiri, terutama pencatatan dan pelaporan imunisasi di tingkat desa dan posyandu. Banyak hasil studi menyimpulkan kita masih lemah dalam hal ini. Masih banyak terjadi over reported, atau under reported, sehingga cakupan yang dilaporkan kurang merepresentasikan cakupan sebenarnya. Hasil riset kesehatan dasar melengkapi kekawatiran ini, dimana sesuai Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa proporsi imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan sebesar 59.7%, sedangkan Riskesdas 2018 mencatat angka sebesar 57.9%. Dua kali pelaksanaan Riskesdas, cakupan imunisasi nasional masih dibawah 60%.

Sementara Wiwin Purwitasari, SKM, M.Kes, dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, sebagai nara sumber tunggal pada workshop, secara detail memaparkan kebijakan, jenis, interval, dan urgensi imunisasi dalam mencegah berbagai penyakit PD3I yang dikenal sangat menular dan mematikan. Konsep kekebalan kelompok merupakan tujuan utama imunisasi, sehingga cakupan tinggi menjadi syarat mutlaknya. Lebih lanjut ditekankan, bahwa pada tahap awal untuk mencapai target cakupan tersebut dimulai dari validitas data sasaran. Kita harus mempunyai seluruh data sasaran imunisasi di Desa, by name by addres. Seluruh bayi, baduta, balita di desa, baik yang rutin datang ke Posyandu, yang jarang datang, bahkan yang tidak pernah datang, harus tercatat jelas di register imunisasi kita. Dengan data ini kita tahu persis sasaran sudah diimunisasi lengkap, atau diimunisasi sebagian, atau tidak pernah diimunisasi sama sekali. Berdasarkan data ini kita harus melakukan sweeping atau penyulaman untuk bayi, baduta di desa yang belum lengkap imunisasinya, sehingga kita yakin seluruh sasaran di desa sudah masuk dalam upaya maksimal kita untuk dapat diimunisasi.

Lebih khusus, Wiwin Purwitasari mengingatkan kembali cakupan imunisasi lanjutan pada baduta usia 18 s.d 24 bulan. Angka cakupan imunisasi baduta ini masih rendah. Hal ini dimungkinkan diantaranya karena masyarakat terlanjur memahami bahwa setelah bayi kurang setahun selesai diimunisasi Campak/MR, dianggab sudah lulus. Padahal imuisasi lanjutan ini sangat penting dalam meningkatkan kekebalan anak pada usia ini (dimana antibody anak dalam melawan penyakit menular sudah mulai menurun). Hal ini diperkuat dengan data KLB Difteri Jawa Timur tahun 2018 yang menunjukkan bahwa risiko anak untuk tertular penyakit difteri akan meningkat 12 kali pada anak yang tidak diimunisasi lanjutan.

Workshop imunisasi ini sengaja mengundang kader dan mitra, mengingat peran strategis mereka dalam mendukung pelaksanaan imunisasi di masyarakat. Masih banyak desa-desa yang belum mencapai target minimal cakupan imunisasi rutin bayi, imunisasi lanjutan usia 18-24 bulan, atau cakupan imunisasi anak sekolah (BIAS). Kita seringkali tidak tahu persis, sasaran-sasaran yang menolak atau belum diimunisasi pada tingkat Desa atau Posyandu, sehingga kita tidak tahu desa atau posyandu risiko tinggi penularan penyakit PD3I.

Kader kesehatan dan Mitra program imunisasi, baik PKK, Muslimat, Aisyiah, Ponpes, dan berbagai organisasi kemasyarakatan lain, mempunyai peran strategis untuk ikut menggerakkan potensi ditingkat Kecamatan dan Desa, untuk bersama-sama bergerak meningkatkan peran serta masyarakat pada program imunisasi. Sebagaimana diungkapkan Wiwin Purwitasari, beberapa wilayah, dengan dipelopori Mitra ini mempunyai terobosan program my home my village, dengan melibatkan seluruh ibu bayi dan balita untuk ikut aktif mencatat imunisasi putra-putrinya pada sebuah papan yang dipasang di Posyandu. Seluruh masyarakat bisa membaca visualisasi data ini, sehingga tercipta semacam kompetisi dan saling mengingatkan tentang jadwal imunisasi antar ibu bayi dan balita dan masyarakat di Posyandu. Juga diberikan sertifikat penghargaan untuk bayi dan baduta yang sudah mencapai status imunisasi dasar lengkap atau lanjutan.

Masih banyak inovasi penggerakan dan pelayanan imunisasi bagi masyarakat.  Peran Mitra dan Kader Kesehatan tentu sangat diharapkan, bersama-sama tenaga kesehatan di Desa (Bidan dan Perawat Ponkesdes) menciptakan sinergi kepedulian dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, dan memastikan seluruh putra-putri anak cucu tetangga kanan-kiri kita telah mendapatkan hak imunisasi, sebagai bentuk ikhtiar melindungi mereka dari penyakit menular. Langkah kecil ini diyakini mempunyai dampak besar untuk masa depan generasi bangsa yang sehat, cerdas, berkualitas. Semoga (MA).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Website Resmi Dinkes Lumajang