Workshop Surveilans PD3I

Workshop Peningkatan Kapasitas PPD dalam Surveilans PD3I

Sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaksana surveilans tingkat desa, Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang mengadakan Workshop Peningkatan Kapasitsas Petugas Pembina Desa (PPD) dalam Surveilans PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi).Workshop diadakan tanggal 25 April 2019 di Hotel Gadjah Mada,  dengan  undangan  para Petugas PPD, baik Bidan Desa atau Perawat Ponkesdes.

Kegiatan tersebut dilatar belakangi, bahwa tenaga surveilans merupakan ujung tombak dalam menangkap berbagai gejala, rumor, kasus dan kejadian terkait kesehatan masyarakat, khususnya penyakit menular. Mereka diharapkan selalu meningkatkan kepekaan dan responsif cepat dalam menangkap gejala penyebaran penyakit dan masalah kesehatan di masyarakat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kab. Lumajang, dr. Bayu Wibowo, Ign, dalam sambutannya menekankan pentingnya upaya meningkatkan cakupan imunisasi untuk mencegah dan meminimalisasi merebaknya penyakit menular di masyarakat. Hal ini  diperkuat data-data status imunisasi pada suspek KLB Difteri Kab. Lumajang tahun 2018. Menurut Munif Arifin, SKM,MPH (Kasie Surveilans Imunisasi), status imunisasi pada sebagaian besar suspek difteri pada kategori tidak lengkap, tidak punya catatan  atau tidak pernah imunisasi.  Sementara Hugeng Susanto, SKM, MSI, narasumber tunggal workshop ini, secara terperinci memaparkan etiologi dan epidemiologi berbagai penyakit menular potensial wabah di Indonesia, beserta upaya aktif penanganan dan pencegahan yang harus dilakukan sesuai SOP oleh pelaksana surveilans Desa dan Puskesmas.

Sebagaimana status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri tahun 2018 yang ditetapkan diseluruh wilayah Kabupaten dan Kota di Jawa Timur (termasuk Kab. Lumajang), peran tenaga surveilans di tingkat desa, Puskesmas, dan Rumah Sakit,  terbukti sangat penting untuk segera memberikan respon standar sebagai upaya untuk mencegah penularan lebih luas. Mereka segera melakukan pelacakan pada suspek dengan segera merujuk suspek ke falisiltas pelayanan kesehatan (Puskesmas atau rumah sakit). Diberikan pengobatan sesuai SOP pada suspek, dengan antibiotik dan atau  melakukan isolasi dan pemberian Anti Difteri Serum (ADS). Juga segera melakukan pelacakan untuk menemukan kontak erat suspek seperti keluarga, tetangga, teman sekolah, dan lainnya. Terhadap kontak erat tersebut diberikan konseling dan pemberian profilaksis agar tidak tertular difteri

Dengan berbagai langkah standar dan kecepatan tenaga surveilans diatas, berdasarkan data menunjukkan, seluruh suspek penderita difteri di Kabupaten Lumajang seluruhnya  sembuh. Artinya keberhasilan pengobatan sebesar 100%. Tentu terdapat berbagai upaya keras dari seluruh pihak, khususnya pelaksana surveilans tingkat desa, Puskesmas, Rumah Sakit, dan Dinas Kesehatan, dibalik capaian angka ini. Ada kecepatan respon, keakuratan tindakan, dan penegakan SOP sehingga seluruh suspek difteri segera ditemukan, dilaporkan, diobati, dan dicegah potensi penularannya.

Masih banyak risiko penyakit menular lain yang harus menjadi perhatian pelaksana surveilans ini. Sebut saja beberapa penyakit re-emerging yang trend-nya mulai muncul kembali. Selain difteri, ada leptospirosis, MersCov, pertusis.  Juga menjadi perhatian adalah potensi penyakit dan keracunan makanan, karena moment ramadhan dan idul fitri 2019. (MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Website Resmi Dinkes Lumajang